PART 2 - ARGA, THE JUNGLE BOY
Arga Winarkia, dulu sangat berharap bisa melakukan petualangan hebat di tempat-tempat yang menantang di seluruh dunia. Kegiatannya tidak jauh-jauh dari olahraga, pecinta alam, atau hal-hal ekstrem lainnya. Arga juga memiliki reputasi yang bagus di dalam bidang beladiri. Sebagai mahasiswa, kegiatan organisasinya bisa dibilang berkilauan tapi berbanding terbalik dengan akademisnya.
Meskipun ketampanannya kadang membuat orang khilaf, tapi coba biarkan diri kalian kenal lebih dalam lagi, biasanya kalian akan sadar betapa anehnya orang ini.
Ketika janjian dengan (calon) pacarnya, Arga datang terlambat.
“Kamu pikir ini udah jam berapa?!” sembur (calon) pacar Arga dengan ganas. Arga dengan tampang tak berdosa berusaha mencari jam di sekitarnya, sampai akhirnya dia menemukan sebatang ranting pendek di dekatnya. Arga mulai menancapkan kayu itu pada tanah dan akhirnya dia tahu pukul berapa sekarang.
Cewek itu hanya mengernyit. Saat itu kernyitannya tidak lah hebat. Sehebat setelah beberapa kejadian lagi.
“Kamu emang nggak punya jam, apa! Ya udah, ayo cepetan. Kita bisa ketinggalan filmnya.”
“Ayo!” sambut Arga riang, namun setelah itu mereka berjalan ke arah yang berlawanan.
“Ih, kemana?”
“Mau nonton?”
“Iya, kenapa jalan ke arah situ? Taksinya di sini.”
“Ngapain naik taksi?” Arga bertanya balik.
“Emangnya mau jalan kaki?”
“Ya kan deket.”
“Deket dari Hongkong!”
“Nonton di kosan aku kan?”
“Eh?” wajahnya memerah padam. “Ta-ta-tapi kan film baru nggak mungkin ada DVDnya kan... Emang kamu dapet donlotan dari mana?” lanjut si cewek dengan warna muka bak rambutan kematengan.
“Kenapa nonton yang baru? Nonton yang lama aja dulu, aku belom selese nonton yang lainnya.”
“Ya- yah... salahmu sendiri kebanyakan kegiatan di luar kampus, sih...” Jeda sebentar. “Tapi cu-cuma ber... dua?”
“Iya berdua. Aku nggak punya temen kos.”
“Ya-yah... apa boleh buat.” Masih salah tingkah.
“Siip. Kosku lewat sini.” Arga menunjukkan muka secerah matahari sehingga si cewek merasa tidak akan bisa menang dari cowok ini. Dia sudah memantapkan hatinya untuk pasrah dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Tapi... 20 menit setelah itu dia menyesali keputusannya.
“Arga! Kosan lo tuh di mana, Ny*t!” Cewek itu sedang terengah-engah memegangi lututnya karena kelelahan.
“Kalau kamu lebih cepat sedikit kita seharusnya udah sampai dari 10 menit yang lalu.”
“Terus lo nyalahin gue yang jalannya lambat gitu?”
“Aku nggak ngomong gitu kok.” Tampang gantengnya tidak terusik sedikitpun dengan dosanya.
“Lagian, kosan apa yang jalannya naik turun kaya mendaki gunung gini!”
“Kosannya emang adanya agak di ujung atas sana, jadi lebih murah dari kosan lainnya. Ya, lumayanlah jadi hemat. Kan sehat juga bisa jalan-jalan kaya gini?”
“Lo bilang ini jalan-jalan??” mata cewek itu semakin gelap dan rasanya ingin membungkus kepala Arga dengan kantong kresek, bungkus es kelapa yang 5 menit yang lalu dia beli.
“Bentar lagi, bentar lagi. Yang semangat dong, Cantik.”
Pasal 1 ketika cewek mulai marah-marah, sebut wanita itu dengan panggilan ‘Cantik’. Pelajaran berharga dari Playboy kelas teri, Iko, teman jomblo sehidup semati Arga.
Tapi nyatanya berhasil, cewek itu masih misuh-misuh meski pada akhirnya dia menurut.
20 menit setelah itu...
“Eh, Ny*t... Hhh... Lo boong ya? Katanya udah deket, buktinya apa??!”
“Ini kan udah sampe, Cantik.”
“Cantak-cantik jidat lo! 40 menit waktu tempuh ke kosan lo plus jalanan yang naik-turun, ditambah lagi...” cewek itu sudah mengumpulkan sisa-sisa terakhir kekuatannya untuk memaki Arga. Berharap saat menyemburkannya api keluar dari mulutnya.
“... ITU ADA BUS, YA TOLONG!” ambil napas sebentar. “Bus itu bukannya lewat kampus kita?! KUATKAN HAMBA, YA ALLAH...”
“Oh, Bus itu... Emang, tapi mesti nunggu 5 menit. Lebih bagus kan jalan, udah hemat, sehat lagi...”
“DASAR COWO KERE!! KE LAUT AJA SONO!!” alhasil, Arga tidak jadi nonton karena cewek itu segera berlari menuju bus yang masih berhenti di halte. Cewek itu meninggalkan Arga yang hanya bengong melihat cewek itu melepas heels nya dan berlari-larian.
“Coba heelsnya dibuka dari tadi. Jalannya kan jadi lebih cepet...” sesal Arga.
Ya, cowok kaya raya yang punya banyak segudang kegiatan di luar dan serba bisa itu cuma ada di novel dan komik. Mereka tidak nyata, buktinya semua kegiatan itu paling tidak akan menguras kantong kalian untuk membeli segudang perlengkapan yang dibutuhkan. Bagi orang yang tidak mau membebani orang tua mereka (secara finansial tentunya), pantang untuk meminta uang jajan lebih kepada orang tua. Apalagi bagi Arga yang nilainya pas-pasan nyaris bahaya. Uang orang tuanya tentu sia-sia kalau dilihat dari selembar kertas KHS itu.
Karena itu, demi mepertahankan hidup dan passion-nya itu, yang bisa Arga lakukan hanyalah NGIRIT dan tidak jarang membuatnya terlihat sedikit primitif. Berbanding terbalik dengan tampangnya yang sangat modern itu.
--00--
Sudah genap sehari penuh mereka ada di pulau itu. Sejak kemarin malam belum ada lagi orang yang berani membuka diri mereka lebih jauh. Padahal sebelumnya Arga sudah membuka tema obrolan tentang karamnya kapal yang mereka tumpangi, namun keheningan malam itu benar-benar tak tergantikan.
"Aku nggak pernah menyangka kapal yang kita tumpangi itu akan berakhir seperti ini..." Arga tertawa seperti saat dia sedang membicarakan kebodohan yang telah dia lakukan di hari kencan pertamanya dengan salah satu gadis populer di kampus kepada Iko.
Aulia, Reisya, Luna dan Nenek Darsih saat itu hanya diam seribu bahasa duduk mengelilingi api unggun. Catur yang telah menemukan sumber mata air berdalih karena kelelahan jadi ingin segera tidur. Pada akhirnya Luna dengan wajah yang terlihat sangat lelah juga pamit untuk tidur disusul oleh Reisya. Sedang Aulia sedari tadi sibuk dengan powerbank-ponselnya dan tidak jarang sesekali mengeram kesal, akhirnya terlihat sibuk sendiri. Nek Darsih tanpa ba-bi-bu pun langsung masuk ke dalam kemah yang sudah disiapkan Arga sebelumnya.
Dan lalu hari berganti tanpa kemajuan yang berarti.
Arga yang sudah menanggalkan kemejanya dan hanya memakai kaos hitam tanpa lengan kesukaannya, hari ini masih memilah-milih kayu kering yang bisa dijadikan api unggun malam ini. Mai yang sejak kemarin sudah diungsikan ke pohon terdekat ketika baru saja sampai di pulau itu, kini sedang asyik makan bekalnya. Mai adalah seekor monyet betina manis yang jatuh cinta pada Arga ketika sedang melintas di depan kosannya. Dan sejak dua bulan yang lalu, Arga mengangkat Mai sebagai hewan peliharaannya.
“Mai, sisakan pisangnya sebelum kita dapat makan buat besok. Kamu nggak mau kelaparan kan?” Mai memandang Arga dengan penuh cinta, kemudian segera menaiki tubuh Arga hingga berhenti di pundaknya.
“Oke, kayunya sudah beres. Ayo kita kembali, Mai!”
Sejak awal kapal mendarat di pulau sampai detik ini perasaan semangat Arga tidak pernah surut. Mungkin bisa dikatakan bahwa Arga adalah orang satu-satunya yang sangat menantikan hal ini. Terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni, bertahan hidup dan saling mengandalkan. Di matanya, itu adalah hal yang sangat menantang, membuat adrenalinnya bergejolak. Dan berhubung kelima orang lainnya memang tidak bisa diandalkan, maka kini Arga mengerahkan kekuatan penuh untuk membimbing mereka semua.
Semua akan indah pada tempatnya. Begitu pula Arga, di tempat yang seperti ini Arga-lah yang paling berguna dan dapat diandalkan. Keprimitifannya justru akan sangat membantu mereka untuk bertahan hidup.
--
“Aaakk!” Luna teriak histeris ketika Arga mendekat ke arahnya.
Arga, cowok itu memang terlalu ganteng untuk dianggap aneh. Tapi Luna bukan teriak karena Arga yang terliat ganteng dan macho, Luna berteriak karena sangat takut dengan binatang yang ada di pundaknya.
“Baru kali ini liat si Buta dari Gua Hantu beneran...” Aulia terperangah.
“Aku tahu kalian emang orang kota yang modern, tapi bukan berarti kalian belum pernah lihat kera secara langsung kan?” Arga menaruh kayu bakar di samping tenda. Melihat sekilas ke arah Nek Darsih yang sedang mengamplas kayu yang di dapatnya. Sepertinya kayu itu akan dijadikan tongkat olehnya.
“Monyet!” Luna membenarkan. Mai terlihat marah dan bersuara tidak senang. Luna berteriak lagi.
“Hei, Mai nggak suka dibilang begitu.”
“Kenapa? Dia kan monyet sama aja!”
“Yah, aku sih nggak mau tahu, kalau nanti Mai tiba-tiba menjambakmu atau menggigitmu ya.” Arga menepuk sayang kepala Luna dan mendatangi Reisya. Luna merengut kesal.
“Hari ini dapet apa aja?”
“Aku nggak tahu, tapi kayanya bisa dimakan. Om yang di sana memberitahukan ini-itu tentang bahasa-bahasa yang belum pernah aku dengar. Pokoknya intinya ini tidak beracun...” Arga manggut-manggut mengerti. Lagi-lagi Arga memaklumi melihat Catur yang sedang tidur, dengan berdalih lelah karena mencari bahan makan seharian dia bisa bebas menyiapkan makan malam hari ini.
“DASAR KAYU NGGAK GUNA!!” Aulia melempar kayu-kayu yang sudah dicari Arga dengan sembarang.
“Eh? Woi! Kenapa dibuang?” Arga menghampiri Aulia dengan panik.
“Mereka nggak guna!! Buat apa mereka ada kalo ngga ada api??!”
“Hah?”
“Kita nggak punya Lighter lagi, bahkan korek api kayu pun nggak ada! Kemarin masih untung Lighternya si Shamus gue pegang, sekarang kita nggak punya apa-apa!" Aulia menunjuk-nunjuk kayu-kayu tak berdaya, "Mereka itu nggak guna tanpa itu!!”
“Kita emang nggak punya itu...”
“Tuh, kan? Tuh, kan? Orang kaya lo nggak mungkin ngerokok. Om yang lagi tidur di sana pun pasti lebih milih tidur daripada rokok...”
“Iya, tapi kita bisa buat sendiri apinya.”
“Hah?” kali ini gilliran Aulia yang melongok seperti menemukan UFO yang mengeluarkan alien dari dalamnya.
“Huaaa...” Teriakan histeris itu datang lagi, kali ini dari Reisya. Dia menangis sesengukan karena mendapati di tangannya pisau besar berkarat.
“Kenapa?” Arga mendatangi Reisya.
“Li-lihat pisau ini... Karat di mana-mana... a-aku nggak bisa membayangkan apapun selain pisau ini sering terkena darah dan membuatnya berkarat.”
“Hah? Kok bisa mikir gitu? Lagian dari mana pisau itu?”
“Da-dari Nek Darsiih...” Arga dan Reisya melihat Nek Darsih secara berbarengan, lalu mata mereka bertemu. Tiba-tiba Nek Darsih tersenyum dan mendadak Arga dan Reisya merinding.
Di samping itu, ada orang yang dengan tentramnya tidur di dalam tenda. Dia bergumam tidak jelas karena terusik.
“Malam ini benar-benar berisik...”
“Heh, Om, bangun! Jangan mentang-mentang udah make sedikit otakmu lantas bisa istirahat.” Luna menatapnya sinis. Catur membalas tatap Luna sebentar, lalu kembali menutupi wajahnya dengan jaket miliknya.
“Apa sih om-om satu ini! Hih!“
Lalu kehebohan dan kebisingan pun berangsur semakin nyata. Dua wanita rempong masih terus membuat Arga semakin pusing, belum lagi Nek Darsih yang misterius itu. Keributan kecil antara Luna dan Catur pun baru dimulai. Ya, meskipun sedikit mereka mulai berjalan untuk membuka diri masing-masing, merajut keakraban dan kerjasama demi bertahan di pulau itu, tempat mereka menggantungkan nasib mereka sekarang...
Bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar